Oleh : Ustadz Wahyudin Bahtiar, S.Pd.I
C. Praktek para salaf dalam menjaga pandangan:
Dari Al-Mada’ini dari syaikh-syaikh
beliau berkata, “Sebagian orang pemerintahan di Bashrah hendak bertemu
dengan Dawud bin Abdillah, maka Dawud pun pergi (menuju Bashrah) dan
singgah di rumah salah seorang sahabat beliau yang terletak di pinggiran
Bashrah. Sahabatnya ini adalah seorang yang sangat pencemburu. Dia
memiliki seorang istri yang bernama Zarqaa’ yang cantik jelita. Pada
suatu saat sahabatnya ini keluar karena ada suatu keperluan, maka diapun
berpesan kepada istrinya untuk bersikap ramah dan melayani Dawud.
Tatkala kembali kerumahnya diapun berkata kepada Dawud, “Bagaimana menurutmu dengan si Zarqaa’?, bagaimana sikap ramahnya kepadamu?”. Dawud berkata, “Siapa itu Zarqaa’?”, dia berkata, “Yang mengurusimu dirumah ini”. Dawud berkata, “Saya tidak tahu dia si Zarqaa’ atau si Kahlaa’?”. Lalu istrinya menemuinya maka diapun marah dan berkata, “Aku telah berpesan kepadamu agar ramah dan melayani Dawud, lalu mengapa tidak kau lakukan pesanku?”. Istrinya berkata, “Engkau telah berpesan kepadaku untuk melayani seorang yang buta, demi Allah dia sama sekali tidak melirik kepadaku!”
Dari Muhammad bin Abdillah Az-Zarraad
berkata, “Hassaan (bin Abi Sinan) keluar untuk melaksanakan shalat ‘ied,
tatkala dia kembali dikatakan kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, kami
tidak melihat hari raya ‘ied yang wanitanya paling banyak (keluar ikut
shalat ‘ied) dari pada ‘ied tahun ini!” Dia berkata,“Tidak ada seorang wanitapun yang bertemu denganku hingga aku kembali!”. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa tatkala dia kembali istrinya berkata kepadanya, “Berapa wanita cantik yang engkau lihat hari ini?” (Hasan diam tidak menjawab) namun tatkala istrinya terus mendesaknya diapun berkata, “Celaka engkau! saya tidak melihat kecuali pada jempol kakiku semenjak saya keluar darimu hingga saya kembali kepadamu!” [1]
Berkata Sufyan,“Ar-Robi’ bin Khutsaim
selalu menundukkan pandangannya. (Pada suatu hari) lewatlah di depannya
sekelompok wanita maka diapun menundukkan kepalanya hingga para wanita
tersebut menyangka bahwa dia buta. Para wanita tersebutpun berlindung
kepada Allah dari (ditimpa) kebutaan”[2]
Salaf tidak hanya menjaga pandangan
mereka dari hal-hal yang diharamkan, bahkan mereka juga menjaga
pandangan mereka dari hal-hal yang tidak perlu.
Seorang laki-laki berkata kepada Dawud At-Tha’i, “Sebaiknya engkau memerintahkan (seseorang) untuk membersihkan sarang laba-laba yang ada di langit-langit rumah!”, Dawud berkata, “Tidakkah engkau tahu bahwasanya memandang yang tidak perlu itu dibenci?”, lalu Dawud berkata,“Aku dikabarkan bahwa dirumah Mujahid lantai dua ada sebuah kamar, namun Mujahid tidak tahu sama sekali selama tiga puluh tahun.”[3]
Hal ini menunjukan kesungguhan salaf
dalam menjaga pandangan mereka, sampai-sampai sarang laba-laba yang
dilangit-langit rumah dan kamar yang ada di lantai atas rumah mereka
tidak mereka katahui, karena mereka tidak memandang kepada hal-hal yang
tidak perlu sehingga mereka tidak memandang ke atas karena tidak ada
perlunya. Barangsiapa yang membiasakan dirinya mengumbar pandangannya
untuk memandang hal-hal yang tidak perlu maka suatu saat dia akan
memandang hal yang diharamkan oleh Allah. Sungguh jauh berbeda antara
salaf dengan sebagian kita yang tatkala berjalan matanya jelalatan ke
sana kemari.
D. Akibat buruk tidak menundukkan pandangan mata:
Ibnul Qoyyim berkata, “Kebanyakannya maksiat itu masuk kepada seorang hamba melalui empat pintu, yang keempat pintu tersebut adalah kilasan pandangan, betikan di benak hati, ucapan, dan tindakan.
Maka hendaknya seorang hamba menjadi penjaga gerbang pintu bagi dirinya
sendiri pada keempat gerbang pintu tersebut, dan hendaknya ia berusaha
terus berjaga ditempat-tempat yang rawan ditembus oleh musuh-musuh yang
akibatnya merekapun merajalela (berbuat kerusakan) di kampung-kampung
kemudian memporak-porandakan dan meruntuhkan semua bangunan yang tinggi.
Adapun pandangan maka dia adalah pembimbing (penunjuk jalan) bagi
syahwat dan utusan syahwat. Menjaga pandangan merupakan dasar untuk
menjaga kemaluan, barangsiapa yang mengumbar pandangannya maka dia telah
mengantarkan dirinya terjebak dalam tempat-tempat kebinasaan. Pandangan
merupakan sumber munculnya kebanyakan malapetaka yang menimpa manusia,
karena pandangan melahirkan betikan hati kemudian berlanjut betikan di
benak hati menimbulkan pemikiran (perenungan/lamunan) lalu pemikiran
menimbulkan syahwat kemudian syahwat melahirkan keinginan kemudian
menguat kehendak tersebut hingga menjadi ‘azam/tekad (keinginan yang
sangat kuat) lalu timbullah tindakan –dan pasti terjadi tindakan
tersebut- yang tidak sesuatupun yang mampu mencegahnya. Oleh karena itu
dikatakan “kesabaran untuk menundukan pandangan lebih mudah
daripada kesabaran menahan kepedihan yang akan timbul kelak akibat tidak
menjaga pamdangan”.
Berkata seorang penyair
كُلُّ الْحَوَدِثِ مَبْدَأُهَا مِنَ النَّظْرِ وَمُعْظَمُ النَّارِ مِن مُسْتَصْغِرِ الشِّرَرِ
كَمْ نَظْرَةٍ بَلَغَتْ فِيْ قَلْبِ صَاحِبِهَا كَمَبْلَغِ السَّهْمِ بَيْنَ الْقَوْسِ وَالْوَتْرِ
وَالْعَبْدُ مَا دَامَ ذَا طَرْفٍ يَقْلِبُهُ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ مَوْقُوْفٌ عَلَى الْخَطْرِ
يَسُرُّ مُقْلَتَهُ مَا ضَرَّ مُهْجَتَهُ لاَ مَرْحَبًا بِسُرُوْرٍ عَادَ بِالضَّرَرِ
Seluruh malapetaka sumbernya berasal dari pandangan…….dan besarnya nyala api berasal dari bunga api yang kecil
Betapa banyak pandangan yang jatuh
menimpa hati yang memandang…..sebagaimana jatuhnya anak panah yang
terlepaskan antara busur dan talinya
Selama seorang hamba masih memiliki
mata yang bisa ia bolak-balikan (umbar)……maka ia sedang berada di atas
bahaya di antara pandangan manusia
Menyenangkan mata apa yang mejadikan
penderitaan jiwanya……sungguh tidak ada kelapangan dan keselamatan dengan
kegembiraan yang mendatangkan penderitaan.
Dan diantara akibat tidak menjaga
pandangan yaitu menimbulkan penyesalan yang sangat mendalam dan hembusan
nafas yang panjang (tanda penyesalan) serta kesedihan dan kepahitan
yang dirasakan. Maka seorang hamba akan melihat dan menghendaki sesuatu
yang ia tidak mampu untuk meraihnya dan dia tidak mampu untuk bersabar
jika tidak mampu meraihnya, dan ini merupakan ‘adzab (kesengsaraan dan
penderitaan) yang sangat berat, yaitu engkau menghendaki sesuatu yang
engkau tidak bisa menahan kesabaranmu untuk mendapatkannya bahkan engkau
tidak bisa sabar walaupun untuk mencicipi sedikit yang kau inginkan
tersebut padahal engkau tidak memiliki kemampuan untuk meraihnya. Betapa
banyak orang yang mengumbar kilasan pandangannya maka tidaklah ia
melepaskan kilasan-kilasan pandangan tersebut kecuali kemudian ia
terkapar diantara kilasan-kilasan pandangan yang dilepaskannya itu. Yang
sungguh mengherankan kilasan pandangan yang diumbar merupakan anak
panah yang tidak sampai menancap kepada yang dipandang agar yang
dipandang menyiapkan tempat untuk hati sipemandang…yang lebih
mengherankan lagi bahwasanya pandangan menggores luka yang parah pada
hati sipemandang kemudian luka tersebut tidak berhenti bahkan diikuti
dengan luka-luka berikutnya (karena berulangnya pandangan yang diumbar
oleh si pemandang-pen) namun pedihnya luka tersebut tidaklah
menghentikan sipemandang untuk berhenti mengulang-ulang umbaran
pandangannya. Dikatakan “Menahan pandangan-pandangan lebih ringan dibanding penyesalan dan penderitaan yang berkepanjangan…”[4].
Berkata Ibnul Qoyyim, “Diriwayatkan
bahwasanya dahulu di kota Mesir ada seorang pria yang selalu ke mesjid
untuk mengumandangkan adzan dan iqomah serta untuk menegakkan sholat.
Nampak pada dirinya cerminan ketaatan dan cahaya ibadah. Pada suatu hari
pria tersebut naik di atas menara seperti biasanya untuk
mengumandangkan adzan dan di bawah menara tersebut ada sebuah rumah
milik seseorang yang beragama nasrani. Pria tersebut mengamati rumah itu lalu ia melihat seorang wanita
yaitu anak pemilik rumah itu. Diapun terfitnah (tergoda) dengan wanita
tersebut lalu ia tidak jadi adzan dan turun dari menara menuju wanita
tersebut dan memasuki rumahnya dan menjumpainya. Wanita itupun berkata,
“Ada apa denganmu, apakah yang kau kehendaki?”, pria tersebut berkata,
“Aku menghendaki dirimu”, sang wanita berkata, “Kenapa kau menghendaki
diriku?”, pria itu berkata, “Engkau telah menawan hatiku dan telah
mengambil seluruh isi hatiku”, sang wanita berkata, “Aku tidak akan
memenuhi permintaanmu untuk melakukan hal yang terlarang”, pria itu
berkata, “Aku akan menikahimu”, sang wanita berkata, “Engkau beragam
Islam adapun aku beragama nasrani, ayahku tidak mungkin menikahkan aku
denganmu”, pria itu berkata, “Saya akan masuk dalam agama nasrani”, sang
wanita berakta, “Jika kamu benar-benar masuk ke dalam agam nasrani maka
aku akan melakukan apa yang kau kehendaki”. Maka masuklah pria tersebut
ke dalam agama nasrani agar bisa menikahi sang wanita. Diapun tinggal
bersama sang wanita di rumah tersebut. Tatkala ditengah hari tersebut
(hari dimana dia baru pertama kali tinggal bersama sang wanita dirumah
tersebut-pen) dia naik di atas atap rumah (karena ada keperluan
tertentu-pen) lalu iapun terjatuh dan meninggal. Maka ia tidak menikmati
wanita tersebut dan telah meninggalkan agamanya”.[5]
Berkata Ibnu Katsir, “Ibnul Jauzi
menyebutkan dari ‘Abduh bin Abdirrohim, beliau berkata, “Lelaki celaka
ini dahulunya seorang yang sering berjihad di jalan Allah memerangi
negeri Rum, namun pada suatu saat di suatu peperangan tatkala pasukan
kaum muslimin mengepung suatu daerah di negeri Rum (dan kaum Rum
bertahan di benteng mereka-pen), dia memandang seorang wanita Rum yang
berada dalam benteng pertahanan mereka maka diapun jatuh cinta kepada
wanita tersebut. Lalu diapun menulis surat kepada wanita itu, “Bagaimana
caranya agar aku bisa berjumpa dengan engkau?”. Wanita tersebut
menjawab, “Jika engkau masuk ke dalam agama nasrani dan engkau naik
bertemu denganku”. Maka iapun memenuhi permintaan sang wanita”. Dan
tidaklah pasukan kaum muslimin kembali kecuali ia tetap berada di sisi
wanita tersebut. Kaum muslimin sangat sedih tatkala mengetahui akan hal
itu, dan hal ini sangat berat bagi mereka. Tak lama kemudian mereka
(pasukan kaum muslimin) melewatinya dan dia sedang bersama wanita
tersebut dalam benteng, mereka berkata kepadanya, “Wahai fulan, apa yang
dilakukan oleh hafalan Qur’anmu?’ apa yang dilakukan oleh amalanmu?,
apa yang dilakukan puasamu?, apa yang dilakukan oleh jihadmu?’ apa yang
dilakukan oleh sholatmu?”, maka iapun menjawab, :”Ketahuilah aku telah
dilupakan Al-Qur’an seluruhnya kecuali firman Allah “Orang-orang yang
kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka
dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di
dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan
(kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. 15:32-3)”, sekarang aku telah memiliki harta dan anak di tengah-tengah mereka.”[6]
Ibnul Qoyyim menyebutkan, “Ada seorang
pria yang akan meninggal dikatakan kepadanya, “Katakan laa ilaaha
illallaah!”, diapun berkata, “Dimana jalan menuju kawasan pemandian umum Minjab?”.
Ibnul Qoyyim berkata, perkataannya ini ada sebabnya yaitu pria ini
sedang berdiri di depan rumahnya dan pintu rumahnya mirip dengan pintu
kawasan pemandian umum Minjab. Lalu lewatlah seorang wanita yang
berparas ayu dan bertanya kepadanya, “Dimana jalan menuju kawasan
pemandian umum Minjab?”. Pria tersebut menjawab, “Ini adalah kawasan
tempat pemandian umum Minjab (padahal itu adalah rumahnya)”. Maka
masuklah sang wanita ke dalam rumahnya dan diapun masuk juga dibelakang
sang wanita. Tatkala sang wanita mengetahui bahwa di telah masuk ke
dalam rumah sang pria dan dia telah tertipu maka sang wanita menampakkan
kepada pria tersebut kegembiraan dan rasa riang dengan berkumpulnya dia
dengan sang pria. Sang wanita berkata, “Sungguh baik jika bersama kita
sesuatu yang mengindahkan hari kita dan menyenangkan mata”. Pria
tersebut berkata, “Tunggulah sebentar aku akan datang membawa semua yang
kau kehendaki dan kau inginkan”. Maka sang priapun keluar dengan
meninggalkan sang wanita sendiri di rumahnya dan dia tidak mengunci
pintu rumah. Lalu iapun mengmbil semua yang dibutuhkan dan kembali
kerumahnya namun ia mandapatkan sang wanita telah keluar dan pergi –dan
sang wanita sama sekali tidak mengkhianati pria tersebut-. Maka sedihlah
sang pria dan selalu mengingat wanita tersebut, dan dia berjalan di
jalan-jalan dan lorong-lorong sambil berkata:
يَا رُبَّ قَائِلَةٍ يَوْمًا وَقَدْ تَعِبَتْ كَيْفَ الطَّرِيْقُ إِلَى حَمَّامِ مِنْجَابِ
Duhai, kapan ada suatu hari dimana
sang wanita yang dalam keadaan letih berkata, “Bagaimanakah jalan menuju
kawasan pemandian umum Minjab?”
Maka tatkala suatu hari dia sedang
mengucapkan hal itu tiba-tiba ada seorang wanita yang menjawabnya dari
belokan jalan, dia berkata “Kenapa engkau tidak segera menjaga rumah atau menjaga pintu takala engkau telah mendapatkan sang wanita?”
Maka bertambahlah kesedihannya, dan
demikian terus kondisinya hingga akhirnya bait syair inilah adalah
perkataannya yang terakhir di dunia”[7]
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata, “Datang seorang laki-laki ke Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam keadaan berlumuran darah, maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Ada apa dengan engkau?” dia berkata, “Wahai
Rasulullah! seorang wanita lewat di depanku maka akupun memandangnya,
aku terus memandangnya hingga akhirnya aku menabrak tembok maka jadilah
apa yang engkau lihat sekarang (aku berlumuran darah). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا عَجَّلَ لَهُ عُقُوْبَتَهُ فِي الدُّنْيَا
“Jika Allah menghendaki kebaikan pada hambanya maka Ia menyegerakan hukuman baginya di dunia"[8]
Berkata Amr bin Murrah,”Saya
memandang seorang wanita yang membuatku terkagum-kagum, lalu matakupun
buta, maka saya berharap kebutaanku ini adalah hukuman bagiku.”
Abu Abdillah bin Al-Jalla’ pernah suatu
ketika tidak menjaga pandangannya, lalu datang seseorang menegurnya
seraya berkata kepadanya, “Engkau akan merasakan akibatnya walaupun di
hari kelak”. Dia baru merasakan akibatnya empat puluh tahun setelah
kejadian tersebut. Dia berkata,“Maka aku menemui akibat perbuatanku
setelah empat puluh tahun, aku dijadikan lupa Al-Qur’an”[9]
Para salaf bisa merasakan bahwa sebagian
musibah yang menimpa mereka merupakan akibat dari kemaksiatan yang
telah mereka lakukan, walaupun kemasiatan tersebut jauh telah lama
terjadi. Hal ini dikarenakan mereka jarang melakukan kemaksiatan
sehingga mereka ingat betul kemakisatan-kemaksiatan yang telah mereka
lakukan. Adapun sebagian orang zaman sekarang, jika
ditimpa musibah mereka tidak tahu apa sebab musibah tersebut, bahkan
sama sekali tidak terlintas dalam benak mereka bahwa musibah tersebut
merupakan akibat ulah perbuatan (maksiat) mereka. Kalaupun mereka
merasakan bahwa musibah yang menimpa mereka dikarenakan kemaksiatan,
mereka tidak tahu kemaksiatan yang manakah yang mendatangkan musibah
tersbut. Hal ini dikarenakan terlalu banyak dan beraneka ragamnya
kemaksiatan yang telah mereka lakukan sampai-sampai mereka lupa dengan
kemaksiatan-kemaksiatan tersebut.
Renugkanlah wahai saudaraku…lihatlah
pria ini, Allah telah memberikannya anugrah kepadanya dan memuliakannya
dengan menjadikannya menghapal Al-Qur’an, lalu diapun menyia-nyiakan
anugrah tersebut dengan suatu pandangan yang diharamkan oleh Allah. Jika
telah hilang ketakwaan maka akan hilang ilmu, sebagaimana ketakwaan
merupakan sebab utama untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Meninggalkan ketakwaan merupakan sebab utama terhalangnya ilmu yang bermanfaat.
Berkata Imam As-Syafi’i :
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ وَنُوْرُ اللهِ لاَ يُهْدَى لِلْعَاصِي
Aku mengadu kepada imam Waki’ tentang buruknya hapalanku maka beliaupun mengarahkan aku untuk meninggalkan kemaksiatan.
Ia mengabarkan kepadaku bahwasanya ilmu adalah cahaya……dan cahaya Allah tidaklah diberikan kepada orang yang bermaksiat.
Saudara-saudaraku, setelah kita
mendengar dan mengetahui tentang bahaya pandangan mata…. maka semoga
kita bisa menjaga pandangan dan semoga kita diberikan kekuatan untuk
melaksanakan ketaatan dan menjauhi semua larangannya… amin yaa rabbal
alamin.

0 komentar:
Posting Komentar